RSS

PNS Itu Buruh Rakyat, Bukan Boss!

30 Jan

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah media cetak dan media elektronik, termasuk media jejaring sosial mengangkat sebuah persoalan yang tergolong unik. Persoalan itu tentang para Pegawai Negeri Sipil (PNS) muda yang kaya raya berdasarkan hasil temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Kok, dalam masa kerja yang sangat singkat, dia bisa kaya raya? Ini yang bikin unik.

Sebenarnya persoalan ini tidak terlalu menarik lagi, karena sebelumnya sudah pernah didahului oleh Gayus Tambunan. Para PNS muda kaya raya itu hanya segelintir orang, dibandingkan sekian banyak PNS yang masih jujur dan benar-benar berbakti. Munculnya persoalan ini ke permukaan juga sebagai bagian dari gunung es yang pelan-pelan mulai mengapung.

Persoalan PNS muda kaya raya itu, dipastikan seperti sebuah ranjau yang dapat meledakkan ranjau-ranjau lainnya.  Dampak yang ditimbulkan oleh prilaku PNS muda kaya raya itu, setidak-tidaknya mulai meruntuhkan semangat kerja PNS yang selama ini sudah mampu untuk jujur dan disiplin.

Buktinya, hampir setiap hari PNS di pelosok negeri ini keasyikan membahas PNS muda kaya raya itu. Sambil bermimpi, PNS yang lain berujar “seandainya aku kaya raya, akan ku beli…akan traveling ke….akan ongkang-ongkang setelah depositokan kekayaan itu…akan…akan…akan…”

Dalam hati aku bertanya, sebenarnya untuk apa sih orang rebutan jadi PNS? Mau kaya, langsung terdeteksi PPATK. Mau mencuri, ditangkap KPK. Mau curang, diperiksa BPK. Mau keluar, sulit mencari lapangan kerja. Mau bolos, sedang dalam jam kerja. Jadi PNS itu tidak semerdeka pengusaha atau wiraswasta.

Enaknya, profesi PNS telah pasti memperoleh penghasilan tetap diawal bulan, meski hanya cukup  makan, dan tidak sampai lapar,  ditambah jaminan kesehatan (Askes). Satu lagi, surat keputusan (SK) pengangkatannya sebagai PNS dapat dijadikan agunan kepada bank untuk memperoleh kredit. Selanjutnya, seorang PNS bisa mengambil kredit untuk beli motor atau bangun rumah, hanya itu. Lainnya, PNS itu tidak lebih dari seorang “buruh” rakyat yang diperhalus sebutannya dengan abdi masyarakat dan abdi negara.

Mengapa PNS disebut “buruh” rakyat? Karena gajinya dibayar dari hasil pungutan pajak, cukai, atau penerimaan negara bukan pajak. Pernah seorang warga mengaku tidak pernah bayar pajak selama hidupnya. Aku bilang, anda bohong! “Sungguh, berani sumpah, suwer” sambil mengangkat kedua jarinya. “Bohong, kecuali anda tinggal sendiri di hutan belantara” jelasku sekali lagi.

Mari kita lihat, pulsa yang anda gunakan untuk telepon seluler itu kena pajak atau tidak? Kena, pasti yaitu pajak pertambahan nilai (Ppn) dan pajak penghasilan (PPH). Rokok yang anda hisap itu kena pajak atau tidak? Kena, coba lihat di pita cukai pada bungkus rokok itu, berapa persen yang harus dibayar per-batangnya. Anda minum teh botol, kena pajak atau tidak? Kena, Ppn nya dibebankan pabriknya kepada konsumen. Itu sedikit contoh, coba cari yang lain, sangat banyak.

Semua yang kita gunakan dari hasil usaha, industri atau pabrik pasti ada pajaknya. Perlu diketahui,   bukan pengusahanya yang membayar Ppn, mereka hanya numpang pungut dari konsumen, lalu menyetor ke kas negara. Jadi siapa yang sebenarnya bayar pajak? Rakyat, aku, anda dan kita semua. Makanya,  pajak itu bukan hanya pajak bumi bangunan (PBB), tetapi sangat banyak jenisnya, ada pajak langsung dan ada juga pajak tidak langsung. PBB itu salah satu jenis pajak langsung.

Siapa saja yang membayar pajak? Semua orang, mulai dari gelandangan dan pengemis yang membeli sebatang rokok, sampai kepada orang paling kaya di Indonesia. Berarti PNS atau pejabat negara sebagai “buruh” rakyat, maka mereka digaji juga oleh seorang gelandangan dan pengemis? Benar sekali, 100%.

Kalau begitu, apa sih yang dibanggakan oleh seorang PNS atau pejabat negara yang nyata-nyata digaji oleh orang miskin, gelandangan dan pengemis? Tidak ada, malah lebih hebat buruh bangunan yang digaji oleh seorang juragan kaya. Uangnya masih bau pabrik, masih mulus dan baru. Kebanggaan seorang PNS dan pejabat negara hanya kehormatan, itupun jika dia selalu tulus melayani orang yang menggajinya.

Sebaliknya, prilaku PNS muda kaya raya itu dan pejabat negara “serong” lainnya tentu sangatlah memalukan. Sudah digaji oleh orang miskin, lalu nyolong milik dan hak mereka lagi. Kemana hati nuraninya? Beruntung, saat ini barangkali mereka tidak tahu pernah membayar pajak tidak langsung (misalnya cukai rokok) sehingga tidak banyak protes.

Bayangkan, kalau mereka “bangun” dari tidurnya, lalu sadar, ternyata mereka telah bayar pajak setiap hari. Tetapi kenapa belum mendapat pelayanan maksimal? Bukankan ketupat “bangkahulu” dan bogem mentah yang akan mendarat ke wajah PNS dan pejabat negara “serong” itu? PNS itu buruh rakyat, bukan boss dan ambtenar, maka bekerjalah untuk rakyat sebagai juragan pemberi gaji.

Sumber: http://lifestyle.kompasiana.com

 
Comments Off on PNS Itu Buruh Rakyat, Bukan Boss!

Posted by on January 30, 2012 in Serba Serbi

 

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: