RSS

Benarkah Sekolah Kita Mengajarkan Korupsi?

30 Jan

Banyak orang Indonesia yang menggerutu ketika melihat perkembangan Indonesia pada umumnya. Menggerutu bukan karena dia tidak puas dengan kehidupan yang dijalani saat ini. Pun bukan gerutu karena tidak mendapatkan berbagai kesejahteraan yang memang seharusnya didapatkan sebagai rakyat Indonesia.

Sebetulnya kalau harapan pada pendiri bangsa ini yang berwujud undang-undang dasar (UUD) 1945 betul-betul menjadi landasan gerak para penyelenggara negara, rakyat akan sejahtera. Karena selain rakyat bekerja atas nama diri dan keluarganya, mereka juga akan menikmati kemudahan-kemudahannya sebagai warga negara. Dan hak-hak kita sudah dipikirkan secara mendalam oleh para pahlawan yang telah mendahului kita.

Kita sebagai rakyat memiliki kewajiban untuk bekerja untuk menghidupi diri dan keluarga. Sebagai warga masyarakat dan negara pun akan banyak perlakuan-perlakuan dan mungkin subsidi-subsidi dari negara sebagai lembaga pemerintahan yang diamanati oleh undang-undang dasar (UUD) 1945.

Harapan-harapan rakyat pada hari ini memang sekedar harapan. Kita akan mencari pekerjaan sudah tersumbat oleh sistem yang tidak lagi berdiri di atas aturan. Perjalanan pemerintah saat ini juga dijalankan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab alias mereka para pencari duit yang tidak saja yang halal, namun yang haram pun sudah direncanakan untuk diraihnya.

Subsidi untuk kesejahteraan rakyat miskin terus direduksi oleh para penguasa dan diarahkan masuk ke kantong-kantong pribadi, keluarga, sahabat dan para koleganya. Orang-orang kaya banyak yang masih merasa miskin, sehingga mereka harus tertatih untuk menjalani hidup ala orang haus materi dan jabatan.

Lihat saja data terkini tentang kasus-kasus korupsi misal saja kasus Bank Century yang menelan uang rakyat yang bernilai Rp 6,7 triliun, wisma atlit Rp191 miliar, Hambalang Rp 1,2 triliun, cek pesawat Rp 24 miliar. Jumlah ini hanya jumlah kecil yang saat ini belum selesai kasusnya dan masih terus berjalan. Kita juga tahu berdasarkan informasi koran atau berita-berita tentang nama-nama yang sering muncul. Pastinya mereka adalah orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan di Indonesia atau bahkan malah alumni luar negeri.

Kita sebagai rakyat mungkin tidak dapat membayangkan seberapa banyak rumah, ketika angka-angka itu dinikmati oleh rakyat kecil. Juga, berapa juta rakyat miskin dapat membangun usahanya dan tidak melibatkan apalagi harus menjadi peminta-minta dalam membangun hidupnya. Tentu angka-angka itu angka yang spektakuler untuk rakyat seperti kita semua.

Namun, apakah kita pernah berpikir bahwa pelaku korupsi ini adalah orang-orang terhormat, terdidik dan sudah kaya. Pun pernahkah kita berpikir bahwa banyak dari mereka yang berpendidikan tinggi dan alumni perguruan tinggi terkemuka.

Kita semuanya (pembaca tulisan ini) haqqul yakin bahwa mereka bukan orang yang “bodoh” karena banyak sarjana, master atau pun doktor dari perguruan tinggi negeri yang memang sudah berkualitas.

Tentu tulisan ini bukan bermaksud menyudutkan perguruan tinggi atau sekolah-sekolah dimana mereka menuntut ilmu. Tulisan ini hanya mengajar kita semua untuk berpikir linier, untuk menemukan benang merah dari kaitan-kaitan itu.

Toh kita semua juga yakin, masih banyak alumni-alumni dari perguruan itu yang menjadi orang benar, jujur, bertanggung jawab, cinta bangsa dan negara, cinta istri dan keluarga, mencari rezeki hanya dengan yang halal.

Kita memang tidak bisa “gebyah uyah” dalam menilai. Namun, tidak dipungkiri bahwa orang-orang yang berkasus dan bermasalah adalah bagian dari kampus dan sekolah tertentu. Kita mungkin tidak membakar sawah hanya untuk mencari tikus. Artinya mungkin saja, mereka hanya orang-orang yang kebetulan rakusnya luar biasa dan menemukan sawah yang selama ini mereka cari.

Tetapi paling tidak ini adalah bahan introspeksi kita semua bahwa, benarkah di negeri ini kerusakannya disebabkan oleh orang-orang yang memang terdidik? Kalau memang benar, lalu adakah kesalahan dalam sistem pendidikan kita?

Entahlah jawabannya ada pada diri kita masing-masing……

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com

 
Comments Off on Benarkah Sekolah Kita Mengajarkan Korupsi?

Posted by on January 30, 2012 in Tulisan bebas

 

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: