RSS

Potret Kita

21 Mar

Meski sudah ada undang-undang yang melarang pemberian sumbangan kepada para pengemis di jalan raya, eksistensi pengemis tetap saja ada. Inilah realita yang terjadi di Indonesia. Mengemis bukan sekadar soal kemiskinan lagi, melainkan soal atittude si pengemis maupun si pemberi.

Pengemis merasa, mendapatkan uang yang paling mudah, dengan cara meminta-minta. Padahal masalah yang mereka hadapi bukan soal nggak mampu buat mencari uang, sehingga menyebabkan mereka miskin. Tetapi lebih karena mereka ingin instan mendapatkan uang atau cara cepat.

Setelah mendapatkan pengalaman mengemis, yakni dengan mendapatkan uang secara instan, mereka jadi malas lagi bekerja. Yaiyalah! Cuma dengan menadahkan tangan, wajah pura-pura dibuat susah, baju dibuat lusuh atau compang-camping, kita bisa meraih sehari at least Rp 30 ribu. Nggak heran kalau pengemis ada di mana-mana di kota metropolitan ini.

Padahal saya banyak menjumpai orang-orang miskin yang bekerja keras buat mendapatkan uang tanpa harus mengemis. Kalau pengemis beralasan, kan harus pake modal? Para pekerja miskin yang saya ceritakan ini nggak membutuhkan modal, kok! Mereka sekadar punya niat bekerja. Eh, meski sudah tahu nggak butuh modal, tetap saja kita menemui orang-orang di jalan-jalan raya, di mana mereka yang sesungguhnya masih mampu buat bekerja, dengan enak duduk-duduk di pingir jalan atau mengandalkan cacat tubuhnya, mengandalkan orang yang berbaik hati pada mereka.

Selain dari kemalasan dan ingin mendapatkan uang secara instan, faktor lain yang menjadikan pengemis sulit diberantas, karena ada mafianya. Pengemis sudah menjadi industri yang menarik buat segelintir oknum orang yang memanfaatkan orang-orang miskin yang malas buat mengemis di kota metropolitan. Gokil abis!

Soal mengemis ini, Majelis Ulama Indonesia Sumenep sudah mengeluarkan fatwa haram bagi mereka yang mengemis. Langkah MUI Sumenep ini pun mendapatkan dukungan dari MUI Pusat. Sementara soal mereka yang memberikan shadaqoh ke para pengemis, MUI mengimbau kepada kaum Muslim untuk menyampaikan infak, zakat dan shadaqoh melalui lembaga atau saluran yang sudah disediakan secara Islam.

Simak hadits berikut ini:
“Sedekah tidak halal buat orang kaya dan orang yang masih mempunyai kekuatan dengan sempurna.”(HR Tarmidzi).

Hadist tersebut menjelaskan, bahwa para pengemis yang sebetulnya masih produktif, masih sangup bekerja diharamkan mengemis. Apalagi kalau tujuan mengemis adalah memperkaya diri sebagaimana yang diungkapkan di hadist Tarmidzi berikut ini:

”Siapa yang meminta-minta pada orang lain untuk menambah kekayaan hartanya berarti dia menampar mukanya sampai hari kiamat dan makan batu dari neraka jahanam. Oleh karena itu, siapa yang mau silakan minta sedikit dan siapa yang mau silakan minta sebanyak-banyaknya.”(HR Tarmidzi)

Meski jelas-jelas banyak pengemis di perempatan jalan, namun ada fenomena yang sebenarnya nggak jauh beda dengan aktifitas mengemis, yakni meminta sumbangan masjid di jalan raya. Bermodalkan jaring ikan, para peminta sumbangan berdiri di pinggir-pinggir jalan. Ada suara orang membacakan ayat suci Al-Qur’an yang diperdengarkan via speaker. Buat saya, ini memalukan!

“Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudriy r.a. bahwa beberapa orang dari kaum Anshar meminta sesuatu kepada Rasulullah SAW. kemudian beliau memberi mereka, kemudian mereka meminta lagi kepada Rasulullah SAW., Kemudian beiau memberi mereka lagi, kemudian mereka meminta lagi kepada Rasulullah SAW. kemudian beliau memberi mereka lagi, sehingga habislah apa yang beliau miliki, kemudian beliau bersabda: “Jika aku masih memiliki sesuatu tentu aku tidak akan menyembunyikannya dari kalian. Siapa yang menghindari dari minta-minta, Allah akan memenuhi kebutuhannya, siapa yang merasa cukup dengan pemberian Allah, Allah-lah yang akan mencukupinya, siapa yang berupaya untuk bersabar, Allah akan membuatnya bersabar, dan tidak ada anugerah Allah yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih besar daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari)”

Bukan cuma berdiri di pinggir jalan, bahkan para peminta sumbangan yang katanya berasal dari masjid itu membawa kotak amal ke atas bus atau kendaraan umum lain. Di depan kotak terdapat tulisan mengenai maksud dan tujuan masjid yang diwakili oleh peminta sumbangan masjid tersebut. Ada yang berceramah terlebih dahulu sebelum berjalan melewati para penumpang bus sambil membawa kotak sumbangan. Ada pula tanpa ceramah, langsung menjulurkan kotak sumbangan kepada para penumpang bus. Nggak jauh beda dengan pengemis di jalan bukan? Paling-paling yang beda, pengemis di jalan memakai pakaian compang-camping, sedang pengemis masjid memakai peci.

“Demi Allah yang hidupku berada dalam genggamanNya! Seseorang yang mengambil seutas tali kemudian mencari kayu bakar, lalu kayu tersebut diangkutnya diatas punggungnya, adalah lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada orang lain yang mungkin dia akan diberi atau ditolak.” (HR. Al-Bukhari).

Seharusnya kalau belum siap untuk bikin masjid, ya nggak usah bangun dulu, toh masjid udah banyak. Yang terpenting adalah memakmurkan masjid-masjid yang sudah ada, bukan membuat masjid baru. Aktifitas meminta sumbangan kayak begini bikin malu umat Islam.

Buat saya, seharusnya bangun masjid nggak perlu melakukan aktifitas yang mirip kayak pengemis. Kalau nggak punya uang buat membangun masjid, ya nggak usah bangun masjid. Toh, masjid sudah banyak berdiri, ya nggak? Yang dibutuhkan adalah memakmurkan majid-masjid yang sudah ada. Berdoa dan berusaha agar bisa dapat uang dan membangun masjid. Berusaha di sini bukan dengan cara meminta-minta seperti pengemis. Kalau aktifitas tersebut masih dilakukan oleh panitia pembangunan masjid, sungguh mencoreng Islam. Orang kafir pasti akan menyebut orang Islam sebagai agama yang melegalkan pengemis, dan itu melanggar fatwa MUI yang mengharamkan menjadi pengemis.  Itulah potret kita,  sampai kapan?

Sumber: http://yesimmoslem.blogspot.com dan perubahan seperlunya.

 
Comments Off on Potret Kita

Posted by on March 21, 2011 in Potret Masyarakat

 

Comments are closed.